Enam Tahun Hidup di Pondok Gunakan Terpal, Mimpi Waras Hidup Layak Diwujudkan Program TMMD ke-112

Oleh : Firmansyah

WARGA Suku Anak Dalam Desa (SAD) Tambah Asri Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas punya “mimpi”.

Bertahun – tahun lamanya, sebanyak 19 kepala keluarga SAD di Desa Tambah Asri ini berharap hidup layak seperti warga lainnya yang tinggal di desa itu.

Sebagian ”mimpi” itu kini terwujud setelah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-112 TA 2021 bersama masyarakat dan elemen lain merajut kebersamaan membangun desa setempat selama 30 hari ( 13 September – 12 Oktober 2021).

Selama Enam Tahun, tempat tinggal Waras berukuran 2×3 meter ini, hanyalah beratap terpal yang sekaligus dijadikan dinding sisi kanan dan kiri pondok.

Sulit dibedakan, antara tempat tidur dan tempat memasak, karena sama – sama berlantaikan tanah.

Jika hujan turun, air hujan mengalir masuk ke tempat tinggal waras yang hidup bersama Satu istri dan Dua orang anaknya.

“Jika hujan lebat turun, pondok Kami becek, seperti sawah” ujar Waras ditemani Istrinya, saat ditemui wartawan inilahkito.com usai acara syukuran dan pembukaan Pra TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), Kamis (2/9) yang dihadiri Wakil Bupati Musi Rawas Hj Suwarti.

Pondok yang dijadikan tempat tinggal Waras dan keluarganya ini tanpa sekat. Hanya ada kain kumal dijadikan pembatas antara ruangan tempat tidur dan tempat memasak.

Pondok yang tidak memiliki dinding bagian depan dan belakang ini, membuat angin mudah menerobos masuk.

Potret kemiskinan pekerja serabutan yang hanya berpenghasilan dibawah Rp 50 ribu per hari ini, dilihat dari tidak ditemukannya barang barang seperti kursi dan meja, apalagi barang – barang elektronik. Hanya ada lemari plastik, itupun didapati dengan membeli barang bekas dari pengepul rongsokan.

Tempat tinggal Waras ini tak memiliki aliran listrik sendiri. Nyala lampu yang hanya digunakan saat hari gelap itu, hanya menumpang dari rumah papan milik kakaknya yang berjarak Lima meter dari tempat tinggal Waras.

Kemiskinan penghuni rumah juga tergambar dari dapurnya yang masih menggunakan kayu bakar dengan peralatan memasak ala kadarnya.

Beruntung beberapa bulan terakhir, secara gotong royong warga SAD yang berada tak jauh dari tempat tinggal Waras membuat sumur untuk kebutuhan Mandi Cuci dan Kakus (MCK). Sebelumnya, hidup mereka mengandalkan air Sungai Ketuan yang berjarak Satu kilometer lebih dari tempat tinggalnya.

Sejak TMMD ke-112 membangun rumah Waras berukuran 6×6 meter bersama dua rumah warga SAD lainnya Eko dan Mudjahid, mimpi Waras menempati tempat tinggal layak huni menjadi nyata.

Memiliki tempat tinggal layak huni adalah salah satu ”mimpi” Waras sejak bertahun- tahun lalu. Namun kemiskinan, menjadikannya hanya bisa berangan-angan dengan keinginannya itu.

Kini melalui program rehab rumah tak layak huni (RTLH) TMMD ke-112 TNI mewujudkan ”mimpi” tersebut.

”Saya sangat senang sekali, ini adalah mimpi Saya dan anak istri Saya untuk memiliki tempat tinggal layak huni,” kata Waras ditemani istrinya dengan ekspresi berbunga-bunga.

Meski dari benaknya sejak bertahun – tahun lalu dapat mewujudkan keinginannya dengan menyisahkan penghasilan Seribu Dua Ribu sisa dari belanja kebutuhan hidup. Dia tak pernah kepikiran, “mimpi” itu dalam sekejap diwujudkan oleh program TMMD ke 112 TA 2021.

Dua rumah tidak layak huni milik Eko dan Mudjahid yang juga dapat program bedah rumah TMMD ini, kurang lebih kondisinya sama dengan tempat tinggal Waras.

Selain hidup di tempat tinggal tidak layak huni, warga SAD di Desa Tambah Asri ini tidak mengenyam pelayanan kesehatan dari pemerintah seperti warga lainnya.

Ketika mereka sakit, hanya mengandalkan obat – obat tradisional yang “dijampi” oleh kepala suku mereka Muhammad yang telah tinggal di wilayah itu sejak tahun 1951.

“Kami tidak pernah berobat ke Puskesmas, hanya mengandalkan obat tradisional yang dijampi oleh bapak ( kepala suku),” kata Waras.

Bahkan saat istrinya melahirkan anaknya, hanya dibantu oleh ibu mertuanya (istri kepala suku).

Selain tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, warga SAD juga tidak mengenyam pendidikan agama, meskipun mereka beragama Islam. Hanya saja anak- anak mereka, sudah bersekolah di sekolah milik pemerintah yang ada di desa itu.

Saat Dandim 0406 Lubuklinggau Letkol Inf Erwinsyah Taupan bersama Wabup Musi Rawas Hj Suwarti menghampiri tempat tinggal Waras, Dia bersama istrinya tak canggung mengungkapkan isi hatinya kepada Dandim dan Wabup Musi Rawas tentang apa saja keinginannya agar bisa hidup layak seperti warga lainnya.

Keberanian Waras ini karena sebelumnya memang sudah berkomunikasi dengan Dandim 0406 sejak tahun lalu yang mengunjungi mereka untuk memperjuangkan agar lokasi kegiatan TMMD ke-112 ini di desa yang memiliki penduduk lebih 3.000 jiwa itu.

Menurut Dandim 0406 Letkol Inf Erwinsyah Taupan, selain kegiatan fisik membangun Tiga rumah tidak layak huni, kegiatan TMMD lainnya di desa ini membangun jalan sepanjang 5,2 kilometer, 10 gorong – gorong dan Satu jembatan besi 8x 5 meter untuk memudahkan akses warga petani di desa itu mengeluarkan hasil perkebunan.

Selain kegiatan fisik jelas Erwinsyah, bersama Pemkab Musi Rawas akan dilakukan kegiatan non fisik seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan agama.

Kegiatan TMMD ini melibatkan 150 personel TNI dari Kodim 0406 Lubuklinggau yang diterjunkan untuk membaur di desa itu yang disertai niat tulus dan ikhlas untuk mengabdi membangun desa tersebut.

Wakil Bupati Musi Rawas Hj Suwarti memberikan apresiasi kegiatan TNI ini.

Dikatakan dia, manunggal bersama rakyat tidak sekadar slogan TNI. Bukti nyata itu, kata dia, bisa dilihat pada TMMD ke 112 ini.

Kegiatan TMMD juga mampu mengetuk kepedulian Pemkab Musi Rawas untuk memberikan perhatian ke warga SAD Desa Tambah Asri ini.

Dalam waktu dekat, Pemkab Musi Rawas akan memberikan kartu BPJS untuk 19 kepala keluarga SAD di desa itu.

Ditambah program pendidikan agama dan program lainnya agar warga SAD di desa itu dapat hidup layak sebagaimana warga lainnya.(*)

%d blogger menyukai ini: